Ga
t
ot Pu
jia
rto - Solo Exhibition
- Mutation Essay Yournastygirls Fr Modules Php Name Statistics Your Nasty Girls" href="http://essay.yournastygirls.com/feed//fr/modules.php?name=Statistics" />
Ga
t
ot Pu
jia
rto - Solo Exhibition
Ga
t
ot Pu
jia
rto - Solo Exhibition Singkatnya, mutasi atau pegeseran dan kecenderungan yang satu ke kecenderungan yang lain hanya mungkin jika dibarengi dengan kemampuan ‘membaca’ atau sikap kritis yang pro-aktif.
Mutasi-mutasi yang dilakukan Gatot dalam pelbagai kecenderungan karyanya, dalam pandangan saya memang memiliki banyak sebab. Itu karena sikapnya dalam proses pembacaan kritis, juga kadang pro-aktif, bahkan sesekali menjadi sangat reaktif. Namun kedua kritisisme yang menimpanya segera bisa ditengarai dengan cepat. Biasanya pengaruh yang kuat dari luar, yang melahirkan sikap reaktif, tak akan membekas lama dalam proses eksplorasinya. Sedangkan sikap pro-aktif, cenderung berjalan lamban, namun biasanya secara berangsur, pada jarak tertentu terlihat jelas pergeserannya. Sikap reaktif, sepertinya selalu menginginkan titik terang dan perubahan yang demikian cepat, tak jarang berakhir pada jalan buntu. Sedangkan sikap proaktif yang cenderung santai, tidak terburu-buru, namun intens dilakukan justru berujung pada wujud pergeseran yang tampak dalam karyanya.
Dua pergeseran belakangan, yang memakai dua medium berbeda justru menunjukkan kekuatannya. Dalam sebuah perbincangan dengan saya, ide untuk melakukan kolase dengan menggunakan kertas yang diambilnya dari potongan koran dan majalah justru hadir saat santai. Ia bahkan, memulainya dengan pikiran: bagaimana sampah-sampah kertas yang terserak, sisa bahan kolase untuk mix media (kertas dan akrilik) bisa dimanfaatkan? Hasilnya, Gatot justru berbalik, memakai kertas yang telah dianggapnya sebagai sampah, kini justru menjadi bahan utama3. Ia tak lagi bekerja dengan mix media. Proses visualisasinya yang rumit, mewarnai pemakaian media kertas yang diperlakukan sebagai cat. Memilih warna yang dianggap cocok, baik dari sisi warna atau tone-nya. Yang juga menarik, sobekan yang tidak merata, yang menghasilkan kelupasan warna putih kertas juga ia manfaatkan sebagai bagian, yang tidak luput dari pengaturan komposisi, agar tiap-tiap bagian sobekan kertas yang ditempelkan menjadi satu kesatuan.
Sikap proaktif yang muncul, ternyata bergema panjang pada wilayah pemakaian mediumnya. Kini, Gatot memilih kain perca sebagai mediumnya. Munculnya berawal dari renungannya terhadap bahan bekas dan perca kain tinggalan penjahit, sama posisinya seperti kertas sisa kolase untuk mix media-nya. Dalam renungan ini, pergeseran dari satu renungan ke renungan yang lain memang amatlah lumrah. Barangkali aliran dari pegeseran ke pergeseran itu bisa dijelaskan melalui postulat William James. William James adalah seorang sastrawan yang mengumandangkan persoalan psikologis dalam diri manusia. Menurut James, ada suatu aliran psikologis yang menurutnya ibarat aliran sungai yang bergerak. Ia menyebutnya sebagai stream of consciousness. Aliran yang berangkatnya dari apa dan berakhir pada apa. Awal dan akhiran berdiri secara centang perenang, ia tak memiliki kaitan khusus. Singkatnya kondisi ini sama seperti seorang yang ngerumpi, awalnya berbicara tentang sikat gigi, kemudian bebicara gigi kuda, kemudian berbicara kulit kuda, kemudian berbicara kuda catur, berbicara Karpov, Rusia, Amerika, perang dingin, dst, dst..
Aliran kesadaran seperti ini, memang memberikan kebebasan bagi lahirnya idiom baru bagi perupaan. Namun jika dibiarkan sama sekali tanpa renungan dan resapan maka, aliran itu akan terus dan terus tanpa memberikan kekayaan kemungkinan baru. Ibarat aliran sungai, jika ia dibiarkan tanpa upaya untuk membendung sama sekali, aliran itu justru berpotensi menjadikan banjir. Tapi jika terlalu lama dibendung, genangan air itu justru menjadi sarang penyakit, Dalam hal ini, memunculkan kecupetan cara pandang, karena selalu berpikir bahwa dunia kreatif hanya sebatas genangan itu saja.
Pada dua proses belakangan ini, rupanya aliran kesadaran(stream of consciousness) yang demikian deras mampu ia bendung, sehingga memunculkan kemungkinan perupaan yang baru bagi Gatot. Perupaan melalui perca, dari sisi teknis visualisasinya juga menarik disimak. Misalnya saja, jika pada awalnya Gatot memperlakukan perca itu ibarat sobekan kertas. Pada media kertas, seperti pada umumnya ia memakai lem untuk merekatkan antara satu sobekan dengan sobekan yang lain, sementara pada perca ia mencoba memakai benang untuk menjahitkan. Jika pada awalnya jahitan itu hanya diupayakan untuk merekatkan potongan-potongan perca, jahitan yang menelusup permukaan itu kini berubah fungsi. Jalinan benang itu kini justru menjadi bagian strategi perupaan. Benang-benang itu diperlakukan ibarat sebuah tarikan garis jika menggunakan kuas, sedangkan untuk warna flat, melebar dan rata ia menggunakan potongan perca.
Setelah sekian panjang antara teks dan konteks diperkarakan, satu pihak mementingkan teks (visual karya) dan di lain pihak mengedepankan isi atau konteks. Kini perdebatan macam itu memang tidak bergema lagi. Kedua kubu yang saling memperkarakan, rupanya sudah sama-sama melihat bahwa dua irisan itu sama pentingnya. Dua irisan itu seperti dua sisi dari mata uang yang sama.
d
Ga
t
ot Pu
jia
rto - Solo Exhibition
Ga
t
ot Pu
jia
rto - Solo Exhibition